Kerajaan Kecil di Kabupaten Enrekang Diperintah oleh Raja Paluang Digelar Puang Leoran

KOmpleks Makam Puang Loran
Kompleks Makam Puang Leoran terletak di Desa Leoran Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang dengan posisi astronomi 3° 36’ 01.1” LS dan 119° 48’ 07.1” BT. Situs Leoran dapat diakses melalui jalan desa yang letaknya ± 1,5 km dari Kota Enrekang menuju ke arah Kota Makassar (km 236 Makassar). Dari percabangan jalan protokol dengan jalan desa tersebut, harus menempuh jalan yang jaraknya ± 5 km ke arah timur. Untuk mengakses situs tersebut perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki ke arah timur. Titik awal berjalan kaki sekitar ± 20 meter sebelum patok batas Desa Pundilemo. Titik awal berjalan kaki berada di ketinggian 183 m diatas permukaan laut.

Untuk menjangkau Situs Leoran, dibutuhkan waktu ± 15 menit berjalan kaki melewati areal kebun coklat dan kawasan hutan lindung. Selain jalan kebun, akses menuju puncak bukit situs berupa anak tangga yang pengerjaannya dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya.

Situs Leoran berada di sisi bukit batu yang cukup besar, dengan ketinggian 297 m diatas permukaan laut. Oleh masyarakat setempat, bukit batu ini disebut Buttu Mandu. Di sisi bukit batu terdapat celah untuk menyimpan beberapa duni.

Di sebelah utara, selatan, barat dan timur situs, batu merupakan kawasan hutan negara yang dilindungi. Vegetasi yang tumbuh di sekitar situs antara lain adalah pohon cendana, pohon bitti (lokal), pohon enau, pohon jati, pohon sassalin (lokal), pohon kayu manis, pohon pulung (lokal) dan pohon pangi.

Kompleks Makam Puang Leoran terdaftar dalam Database Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar dengan register no. 86. Berdasarkan laporan pendataan tahun 1986, disebut bahwa dalam lokasi ini terdapat 5 buah peti mayat atau duni, dengan bahan berupa pohon bitti. Duni-duni tersebut dibedakan atas dua macam berdasarkan ukuran atau besarannya yakni ukuran besar dan kecil. Duni yang berukuran kecil berisi sejumlah tulang-tulang dan tengkorak manusia, dengan kondisi duni yang maih utuh. Dua buah peti mayat yang berukuran besar sudah rusak parah. Terdapat pagar pembatas sebagai pengaman terhadap objek duni yang dibuat sendiri oleh juru pelihara sebelumnya (Laporan Pendataan 1986:51)

Kondisi sekarang, lokasi penempatan duni-duni tersebut terletak pada ceruk batu. Secara keseluruhan terdapat enam buah duni, dua di antaranya berada di dalam pagar pembatas dan sisanya berada di luar pagar di sekeliling ceruk. Duni yang berada di dalam pagar kondisinya masih utuh semua, dengan duni besar warna putih dan kelihatan masih baru berukuran panjang tutup 145 cm, lebar badan 30 cm dan tinggi 50 cm. Adapun duni kecil yang terletak di bagian belakang duni besar, merupakan duni lama dengan kondisi masih utuh.

Sedangkan duni lain yang terletak di luar pagar, kondisinya telah hancur. Sisi timur pagar terdapat dua buah, salah satunya masih menyimpan tulang-tulang dan tengkorak manusia. Pada sisi barat juga terdapat dua buah duni dengan kondisi yang telah rusak.

Sebelum Islam masuk disebelah Tenggara Kota Enrekang sekarang, telah ada satu kerajaan kecil yang diperintah oleh seorang raja bernama paluang yang digelar Puang Leoran. Beliau adalah cicit dari Tomanurung Pallipada di Kallupuni dan istrinya bernama Embong Bulan dari paratiwi. Perkawinan Antara Tomanurung Pallipada dengan Embong Bulan memperoleh anak Lima orang yaitu : Pakka, Lakamumu, La bilong, I Pute, I Monno.

Lakamumu (laki) kawin dengan Puang Taulan, maka Lahirlah Palindungan. Palindungan inilah yang memperanakan Paluang atau Puang Leoran dan seorang lagi perempuan bernama Takke Buku yang diperisterikan oleh Aru Bollo dari Maiwa. Sepeniggalan Paluang (Puang Leoran I) beliau digantikan oleh anaknya bernama Paluluang menjadi Puang Leoran.

Pada masa pemerintahan Palulung Istana dipindahakan ke Pi’nang (± 3 km di sebelah Selatan Kota Enrekang sekarang), sehingga beliau biasa juga digelar Puang Pinang. Palullung kemudian digantikan oleh anaknya Mappeangka menjadi Puang leoran atau Puang Pi’nang. Mappeangka kawin dengan Mallimangan dari Kallupini bergelar Puang Pallidan memperoleh anak tiga orang yaitu; Tanri Angka, Tandi Lawa dan Tandi Solor. Setelah Mappeangka wafat, beliau digantikan oleh puteranya yaitu Tanriangka . Pada masa pemerintahan Tanriangka kerajaan berpindah ke Endekan (Enrekang) dan beliau digelar Arung Enrekang (I). Tanriangka memperisterikan Damarkati yaitu seorang gadis cantik yang ditemukan di dalam hutan, ketika Tanriangka sedang berburu. Sesudah pemerintahan Tanriangka sebagai Arung (Raja) Enrekang I , kemudian berturut-turut di gantikan oleh :
  • Takke Buku Arung Enrekang II, Putri dari Tanriangka .
  • I Kotang Arung Enrekang III, Putra dari Takke Buku dari suaminya bernama Mappe Tangka Arung Buttu.
  • Bissutonang Arung Enrekang IV, Putra dari I Kotang dari Istrinya bernama Passoloi.
  • Maemuna Arung Enrekang V, Putri dari Bissutonang.
  • Baso Panca Arung Enrekang VI, Putra dari saudara Maemuna yang bernama Mappa Tunru
  • Masagumi Arung Enrekang VII, Putra dari Baso Panca .
  • Tuang Lala Arung Enrekang VIII, Menantu laki laki dari Tanri Sessu saudara dari Baso Panca .
  • Arung Enrekang IX (Namanya Tidak Diketahui) , Putra dari Masagumi Arung Enrekang VII.
  • Baso Enrekang Arung Enrekang X, Putra Tuang Lala Dari isterinya bernama I Billang ( Arung Gilirang ).
  • Wetonang Arung Enrekang XI, Putra dari Baso Enrekang .
  • Pancaitana Bunga Walie Arung Enrekang XII, Putri dari Wetonang dari istrinya yang bernama Towaccalo’ (Arung Maewa).
  • Andi Ahmad Arung Enrekang XIII, Anak tiri dari Pancaitana Bunga Walie ( beliau pewaris kerajaan).
  • Andi Muhammad Tahir Arung Enrekang XIV, (terakhir) salah seorang pewaris kerajaan Enrekang yang berada di Soppeng . Andi Muhammad Tahir kawind dengan Andi Dio (datu Lompulle) .
Penulis oleh Anggipurnamasari 
dikutip dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsulsel/


Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment