Kasus UNHAS Yang Terlupakan Oleh BEM Seluruh Indonesia

Mahasiswa News | Berbagai media dari kemarin masih ramai membicarakan kasus yang terjadi dikampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ)hingga menjadi isu nomor satu di media sosial Twitter. Sebuah surat keputusan dari Bapak Rektor dengan Nomor : 01/SP/2016 Tentang Pemberhentian Sebagai Mahasiswa Universitas Mahasiswa Jakarta atas nama Ronny Setiawan dengan tuduhan mengancam Rektor dengan menggunakan UU ITE sebagai dasar hukumnya.

 Surat Keputusan itu telah berhasil mengundang perhatian dan simpati public, kampus dan seluruh mahasiswa Indonesia hingga tokoh masyarakat dan tokoh politik. Tak sedikit yang mengeluarkan sikap, testimoni dan mengutuk surat keputusan itu. Atas nama kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat semua melihat matinya keadilan, kemanusian dan demokrasi dalam kampus. 

Agus Herdianto Mahasiswa Universitas Hasanuddin (UNHAS) mengatakan kepada mahasiswanews.com, Jumat (8/1). Hal-hal yang sama sudah terjadi hampir diseluruh kampus di Indonesia tak terkecuali kampus dikawasan timur Indonesia. Salah satunya adalah Universitas Hasanuddin yang selama dua tahun terakhir

Mendengar  Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) melakukan konsolidasi untuk membangun gerakan Nasional terkait masalah di UNJ, Agus berharap gerakan yang muncul tidak hanya tertuju pada kasus Drop Out kawan Ronny. Tapi menjadikan kasus itu sebagai landasan dan momen untuk mengangkat permasalahan, menyuarakan seluruh kesewenang-wenangan dan intervensi birokrasi kampus terhadap lembaga kemahasiswaan  hingga Mengevaluasi Sistem Pendidikan Nasional secara keseluruhan. BEM SI harus membangun konsolidasi bukan hanya di Wilayah Barat tapi melibatkan kampus-kampus yang di Wilayah Timur. Agar bergerak bersama melawan segala bentuk penindasan tersebut.
Agus menambahkan benih-benih itu sudah tersebar dimana-mana, mulai tumbuh dan menjadi nyata seiring dengan intimidasi, pembungkaman dan penindasan tiap harinya.
"Benih-benih itu sudah tersebar dimana-mana, mulai tumbuh dan menjadi nyata seiring dengan intimidasi, pembungkaman dan penindasan tiap harinya..semoga tidak berhenti pada realitas Empirik tapi sampai pada relasi dan struktur yang membentuknya yakni Kapitalisme, pesan dari Gerakan Prancis tahun 1968. Nasib kita sama, suara kita sama, hanya perlu disatukan agar meledak dan memuntuhkan suara-suara perubahan dan ide-ide  revolusioner" tegasnya.
(qie/MahasiswaNews)
 


Share on Google Plus
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment